October 20, 2021 11:01 am

PT Garuda Indonesia Masih Akan Survive Dalam Masa Sulit Kali Ini

ukblack-links

PT Garuda Indonesia Masih Akan Survive Dalam Masa Sulit Kali Ini – Setelah mengalami penurunan tajam sejak awal th. 2021, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) pada hari Rabu (09.06.2021) mengawali riak di perdagangan bursa. Pada penutupan di Rs 240 per saham, harga saham maskapai penerbit negara adalah 6,19% dibandingkan bersama dengan hari sebelumnya.

PT Garuda Indonesia Masih Akan Survive Dalam Masa Sulit Kali Ini

ukblack-links – Secara annualized basis (YTD), saham GIAA justru cenderung melemah. Tepatnya, lebih kurang 40,59% beruntung berasal dari posisi awal Rs 404 per saham.

Baca Juga  : Influencer Habiskan Ratusan Juta Hanya Untuk MakeUp | Life Style

Namun, bersama dengan terdapatnya rebound kecil ini—yang artinya investor masih mencari saham GIAA—setidaknya harapan publik pada pemulihan hasil perusahaan belum seutuhnya surut.

Ini seperti berada di bawah jebakan, GIAA terlalu di dalam suasana buruk. Sektor penerbangan Indonesia belum pulih, dan baru-baru ini laksanakan tes berturut-turut.

Pertama-tama tentu saja tentang jebakan pinjaman yang membingungkan perusahaan.

Perseroan belum mempublikasikan laporan keuangan terbaru atau tahunan untuk periode 2020. Namun berdasarkan hasil akhir kuartal III 2020, pinjaman Garuda Indonesia naik jadi USD10,36 miliar atau tidak cukup lebih setara bersama dengan Rs 147,6 miliar. . Triliun

Dari nilai nominal itu, lebih kurang $4,69 miliar bersama dengan denominasi lain adalah Rs 67 triliun, yang sebagian besar merupakan pinjaman jangka pendek. Sebutan ini tampaknya berkembang pesat sejak pandemi Covid-19 berhenti awal th. lalu.

Hal semakin rumit sebab pada th. 2021, Perbendaharaan GIAA akan mengurangi pendapatan untuk melunasi pinjaman lagi. Pembatalan haji 2021 menempatkan Garuda Indonesia pada risiko kehilangan pendapatan perjalanan haji, yang biasanya menghasilkan lebih kurang 10 persen berasal dari total pendapatan perusahaan tiap-tiap tahun.

Untungnya, manajemen tidak segera menyerah. GIAA mengupayakan menegaskan investor bahwa pengurangan pendapatan haji telah diperhitungkan di dalam perhitungan mereka.

Sementara untuk pinjaman yang konsisten bertambah, perseroan menyatakan telah mempersiapkan sejumlah langkah. Langkah-langkah ini menjanjikan untuk meminimalkan tekanan pada kinerja.

Salah satunya berkenaan restrukturisasi utang. Sejauh ini, manajemen berdalih negosiasi untuk merestrukturisasi pinjaman jangka pendek mandek, apalagi bersama dengan keterlibatan BUMN lain.

“Perusahaan telah menunjuk konsultan pembantu. Konsultan bisnis, penasihat hukum, penasihat keuangan, dan juga pihak berkenaan lainnya terlibat di dalam diskusi dan diskusi,” tulis anjuran itu di dalam publikasi.

Selain itu, manajemen menjanjikan efisiensi yang luar biasa. Salah satu langkah efisiensi berikut menyangkut rencana pensiun dini bagi karyawan, penyesuaian tunjangan dan upah pekerja, dan optimalisasi utilisasi armada, dan juga pengembalian sebagian pesawat yang tidak optimal bagi penyewa, misalnya.

Pengamat penerbangan Alvin Lee menyebut langkah Garuda itu lumrah mengingat suasana sulit. “Restrukturisasi kudu terlalu dilakukan, asalkan masih memungkinkan. “Kondisi selagi ini masih terlalu sulit,” ujarnya, namun menegaskan masih dibutuhkan peran pemerintah untuk terlalu menyelesaikan masalah tersebut.

Sebelumnya, pemerintah memberikan bantuan berbentuk suntikan obligasi konversi (OWK) senilai INR 1 triliun. Namun upaya berikut dinilai masih kurang.

“Uangnya sedikit sekali sebab hanya cukup untuk melunasi pinjaman lancar dan pinjaman korporasi,” lanjutnya.

Pemerintah awalannya perlihatkan bahwa GIAA OWK akan terima total Rs 8,5 triliun selama sebagian th. ke depan. Namun, kegagalan meraih obyek jadi alasan penolakan untuk direalisasikan.

Akibatnya, maskapai nasional hanya terima 1 miliar OWK sebab sisanya 7,5 triliun RS tidak dapat dibayarkan. Saat ini, pemerintah lewat Departemen Luar Negeri tengah mempersiapkan empat opsi untuk menyelamatkan GIAA.

Opsi pertama adalah mendukung bersama dengan suntikan modal atau pinjaman. Kemudian, opsi ke dua dan ketiga, masing-masing, gunakan payung hukum bantuan kepailitan untuk merestrukturisasi pinjaman dan memindahkan kepailitan, atau merestrukturisasi GIAA dan memicu maskapai baru.

Sedangkan opsi terakhir adalah meremehkan Garuda dan isikan kekosongan yang ditinggalkan swasta. Menurut Alvin, opsi keempat mungkin tidak akan diterima. Namun, menurut dia, ketetapan terbaru masih akan pertimbangkan tiga opsi lainnya.

“Mungkin ada kombinasi berasal dari ketiga opsi ini, jadi tidak ada konsensus hanya gunakan opsi pertama, ke dua atau ketiga,” katanya.

Sebenarnya bukan hanya GIAA saja yang hadapi masalah usaha maskapai. Maskapai lain termasuk berjuang bersama dengan masalah yang sama.

Bisa dikatakan GIAA senang sebab statusnya sebagai perusahaan punya negara terlalu mungkin mereka untuk terlalu mendukung negara. Sekarang berbeda bersama dengan maskapai swasta.

EKSPANSI BISNIS

AirAsia adalah salah satunya. Maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Malaysia ini termasuk menyimak selagi mereka bangkit berasal dari genangan kinerja yang tidak baik th. lalu.

Karena tidak ada jaminan berasal dari pemerintah, akhirnya mereka memastikan untuk melakukan tindakan lebih berani. Seperti yang dijelaskan oleh Chief Technology Officer (CTO) AirAsia Pablo Sans di World Aviation Festival pada April 2021, pihaknya akan mengambil alih exit route yang merupakan perluasan usaha di luar sektor penerbangan.

Kami memastikan untuk memulai transformasi. Pasar lain akan muncul yang secara signifikan dapat meningkatkan keuntungan, katanya.

Sans menyatakan ekspansi didorong oleh aplikasi super, termasuk dikenal sebagai aplikasi super, yang diluncurkan perusahaan sejak Oktober lalu.

Aplikasi AirAsia yang telah teruji di Malaysia tawarkan sejumlah fitur menarik. Mulai berasal dari kemudahan pemesanan tiket dan penyediaan e-wallet sampai beragam bantuan lain untuk kebutuhan pelanggan maskapai.

“Sebagai maskapai penerbangan, kita sesungguhnya seperti Frankenstein. Dalam perihal peluang, metode pembayaran, tampilan dan tayangan, kita masih punyai posisi. Jadi, perihal pertama yang kita coba laksanakan di superuser adalah mengkombinasikan aspek-aspek tersebut,” jelasnya.

Akhir Maret lalu, AirAsia apalagi jadi meluncurkan fasilitas panggilan penumpang yang merupakan salah satu fasilitas transportasi online. Mirip bersama dengan platform serupa seperti Grab dan Gojek, fasilitas ini termasuk mencakup fasilitas lain seperti pengiriman makanan.

Namun, gampang untuk tunggu fasilitas itu diluncurkan dan diterapkan seutuhnya di Indonesia. Hal ini termasuk dibenarkan oleh CEO Grup AirAsia Tony Fernandez.

“Kami telah punyai 17 produk travel, lifestyle, fintech [fintech] di Super App kita yang tawarkan nilai dan pilihan di dalam perihal makanan, belanja, penerbangan, dan beragam penawaran hebat lainnya,” katanya di dalam siaran pers pertengahan Mei. … Janji itu tampaknya tidak kosong.

Dua minggu lalu, Forbes memberitakan bahwa AirAsia tengah pertimbangkan sebagian opsi untuk menambah Capex tambahan berasal dari investor. Modal ini, pada lain, termasuk akan digunakan untuk mengembangkan sebagian alat baru perusahaan dan juga aplikasi hebat.

Selain mencari dana tersebut, laporan terbaru berasal dari Deal Street Asia pada Selasa (6 Agustus) termasuk menyatakan bahwa Grup AirAsia telah mengkonfirmasi pengenalan salah satu entitas komersialnya di segmen dompet digital, yaitu Big Pay Pte Ltd. Total dana yang dikucurkan meraih 53,27 juta dollar AS atau lebih kurang Rp 759 miliar.

Big Pay adalah platform yang dioperasikan oleh AirAsia lewat anak perusahaannya AsiaAsia Digital Sdn Bhd. Sejak th. 2019. Layanan ini termasuk jadi salah satu metode pembayaran utama di AirAsia Superuser.

Dengan investasi tambahan ini, tidak mengherankan bahwa di jaman depan mungkin platform akan lebih luas.

Sedangkan untuk laporan keuangan kuartal I 2021, pendapatan konsolidasi perseroan sendiri adalah 205,07 miliar ringgit Malaysia atau lebih kurang Rp 709,9 miliar. Angka berikut telah turun 90,51% year on year (YoY), berdasarkan RM 2,16 triliun di Malaysia pada periode yang serupa th. lalu.

Pendapatan konsolidasi termasuk operasi AirAsia di Malaysia, Filipina dan Indonesia.

Pendapatan, selagi itu, turun 75 persen tahun-ke-tahun, mempunyai RM 2,84 triliun jadi RM11,37 triliun. Sedangkan untuk rupiah, nilainya setara bersama dengan Rp 2,84 triliun.

Hingga selagi ini PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) belum memberikan laporan keuangannya untuk 3 bulan pertama th. 2021. Namun pada th. 2020 pendapatan perseroan hanya sebesar Rp 1,61 triliun atau turun 75,98% dibandingkan th. sebelumnya sebesar 6,7 triliun rupiah. Triliun

Seperti GIAA, CMPP termasuk mengalami defisit modal sebesar Rp2,91 triliun sampai 2020. Besarnya kewajiban berikut jadi beban bagi Low Cost Carrier (LCC).