October 18, 2021 7:54 pm

Saham Emiten Memiliki Rencana Untuk Meluncurkan Saham Terbaru

ukblack-links

Saham Emiten Memiliki Rencana Untuk Meluncurkan Saham Terbaru – Sejumlah emiten dari berbagai sektor berkomitmen untuk menerbitkan saham baru, baik dalam bentuk rights issue maupun dalam bentuk private placement.

Saham Emiten Memiliki Rencana Untuk Meluncurkan Saham Terbaru

ukblack-links – Di sektor real estate, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) bisa menambah modal dengan menambah Hak Memesan Efek Khusus (PMHMETD) II atau disebut juga right issue, dengan menerbitkan 2,08 miliar saham baru. Sementara itu, saham baru berikut ini menyumbang 12,6 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah right issue kedua.

Baca Juga : PT Garuda Indonesia Masih Akan Survive Dalam Masa Sulit Kali Ini

Berdasarkan publikasi perusahaan, penerbitan HMETD ini memiliki nilai nominal Rs 100 per saham dengan harga kesepakatan Rs 720. Jumlah dana yang bisa diterima SMRA saat rights issue adalah 1,49 triliun rupiah. Setiap pemilik 693 saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham terhitung sejak tanggal pendaftaran pukul 16.00 WIB, berhak mengeluarkan 100 HMETD.

Setiap masalah yang benar memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham baru. Hak tersebut akan dijual di BEI dan terutang dalam waktu lima hari kerja dari tanggal 9 Juni 2021 sampai dengan 15 Juni 2021.

Hasil penerbitan HMETD sebesar 27,87% atau sebesar 416 miliar tersebut dapat digunakan untuk melunasi pinjaman pokok obligasi berkelanjutan Bagian I III sebesar 416 miliar.

Sebanyak 5,86 persen atau setara dengan Rp 87,5 miliar dapat digunakan untuk menutup tunggakan atau pembayaran awal pinjaman utama Bank Mandiri.

Sementara itu, dari sektor perbankan, menurut statistik pasar modal OJK pekan kedua Mei 2021, ada dua perusahaan di sektor perbankan yang melakukan penawaran umum terbatas (PUT) atau rights issue dengan total nilai emisi Rp1 triliun. 9. 0,05 triliun

Keduanya adalah PT Bank Jago Tbk. Pada 24 Februari 2021, 3 miliar saham baru senilai Rp 7,05 triliun telah diterbitkan kepada PT Bank Mayapada International Tbk. 26 Februari 2021 dengan emisi saham baru 4,99 miliar saham dan nilai emisi Rp 1,99 triliun.

Disusul oleh emiten bank yang tergabung dalam grup MNC Hary Tanoesoedibjo, PT Bank MNC International Tbk. hari ini diselenggarakan rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan dan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

Salah satu agenda rapat umum pemegang saham luar biasa berikutnya adalah memberikan izin kepada pemegang saham untuk menambah rencana modal ventura bersama dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau hak mengeluarkan dan penyertaan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

Perseroan berencana menerbitkan HMETD sebanyak-banyaknya 14,23 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp 50 per saham, atau maksimal 33,33 persen dari modal disetor setelah emisi.

Sedangkan untuk private placement, perseroan dapat menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,53 miliar lembar saham Seri B dengan nilai nominal Rp50 atau maksimal 10 persen dari seluruh saham yang disetor penuh perseroan.

Heru Sulistiadi, Head of the Corporate Secretariat Group MNC Bank, mengatakan seluruh dana hasil rights issue dalam private placement, setelah dikurangi biaya pengeluaran, dapat sepenuhnya digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, memperluas pinjaman dan mengembangkannya. dari aplikasi pendukung gerak sebagai aplikasi perbankan digital. …

“Pengembangan pergerakan dapat dilakukan secepat mungkin dengan ekosistem MNC Group yang memiliki basis pengguna terbesar di Indonesia,” jelasnya dalam pengumuman di BEI.

Selain itu, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) pada 27 April 2021, menyusul keputusan untuk menyetujui penerbitan hingga 88 miliar saham baru dengan skema pencegahan khusus. Manajemen belum memutuskan strike price untuk modal melalui mekanisme rights issue ini.

Dalam prospektus tersebut, manajemen BNLI tidak merinci sejauh mana rights issue tersebut direalisasikan. Namun disebutkan bahwa setiap pemegang 1 HMETD berhak atas 1 saham Seri B. baru. Artinya skema ini dapat menciptakan efek pengenceran sebesar 75,83 persen.

Selain itu, sektor semen PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) siap menerbitkan 1,38 miliar saham baru dalam rangka pemberian hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Jumlah ini setara dengan 15,26 persen dari total modal disetor dan disetor.

Merujuk pada keterbukaan informasi di situs BEI, HMETD ini dilakukan dengan nilai nominal INR 500 dan strike price INR 2.300 per saham. Dengan demikian, besaran dana yang bisa diperoleh dari SMCB melalui penawaran umum terbatas (PUT) adalah Rp 3,17 triliun.

Untuk setiap 10 miliar pemegang saham lama yang terdaftar pada tanggal 23 Juni 2021, mereka berhak atas 1,80 miliar HMETD, di mana setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membelanjakan hingga 1 saham baru.

Selain mekanisme rights issue, saham tersebut dipegang oleh Emiten Grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk. termasuk pengumuman Rencana Peningkatan Modal Tanpa Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), juga dikenal sebagai Private Placement.

Dalam rilisnya BEI, emiten Hypermarket, Hypermart, menyatakan akan mengeluarkan sebanyak-banyaknya 752.914.792 saham, yang merupakan 10 persen dari saham baru yang berasal dari jumlah saham di perusahaan yang dicatatkan dan disetor penuh.

Nilai nominalnya adalah INR 50 per saham, tetapi harga kesepakatannya belum diumumkan. MPPA menekankan perlunya penguatan struktur permodalan untuk menjaga posisi keuangan perusahaan.

“Jadi, melalui penerapan PMTHMETD, perusahaan dapat melakukan bisnis yang sehat dan terus meningkatkan kinerja, serta mengantisipasi berbagai peluang pasar di masa depan,” jelas Manajemen MPPA.

Ekspansi FIR

Jadi, manakah aksi korporasi yang berbeda dari lebih dari satu emiten yang lebih menarik? Analis Kiwoom Securitas Sukarno Alatas mengatakan prospeknya menarik ketika aksi korporasi pada pelepasan hak berikutnya digunakan untuk ekspansi.

“Kalau diisi untuk pelunasan pinjaman, kurang menarik. Seperti halnya SMRA, tidak hanya digunakan untuk modal kerja sebesar 66,3 persen, tetapi sisanya digunakan untuk melunasi pinjaman, baik pokok maupun bunga.

Sedikit kurang menarik, lanjut Sukarno, skornya masih tergolong tinggi meski ada hak rilis. Disebutkannya, SMCB juga digunakan untuk melunasi utang. Meski demikian, hasil di kuarter pertama cukup baik.

“Perspektif saham selalu tersedia seiring dengan peningkatan kinerja ke depan,” katanya.

Selain itu, saham BNLI sedikit diminati karena memiliki rasio daya tarik yang baik. Namun, stok masih berlaku pada saat ini.

“Anda bisa menggunakan trik kelemahan buy-on untuk BNLI,” katanya.

Ditambah lagi, kata Sukarno, saham MPPA itu menarik, ditambah dengan berbagai feeling yang bekerja dengan baik, sehingga layak untuk dikoleksi.

“Tren harga sedang uptrend, jadi bisa dikumpulkan atau dibeli dengan gimmick dengan trading untuk MPPA,” lanjutnya.